Dampak Konvergensi
TI dan Telekomunikasi
Oleh: Ikbal Maulana
Banyak perangkat teknologi digital telah
berhasil menyingkirkan perangkat lama yang berbasis teknologi analog dari
pasaran. Kualitas kemampuan teknologi digital memang jauh lebih unggul. Pemutar
musik digital memiliki suara yang lebih jernih. Video digital memiliki kualitas
gambar yang jauh lebih baik dibandingkan video analog. Namun, dampak terbesar
dari digitalisasi adalah terbukanya kemungkinan untuk mengintegrasikan
produk-produk yang semula terpisah-pisah menjadi satu, atau yang dikenal dengan
konvergensi teknologi.
Konvergensi teknologi bisa dengan mudah kita
dapati pada ponsel-ponsel canggih yang beredar di pasaran saat ini. Dengan
ponsel tersebut kita bisa menelpon, mendengarkan musik, memotret, melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan di komputer. Sepuluh
tahun yang lalu kita membutuhkan peralatan yang berbeda-beda untuk melakukan
itu semua. Bahkan melalui layanan 3G dan dengan ponsel yang sesuai, kita bisa
berkomunikasi sambil bertatap wajah dengan lawan bicara kita, sesuatu yang
sebelumnya hanya bisa disaksikan di filem Dick Tracy atau filem-filem
fiksi ilmiah yang mengisahkan masa depan.
Digitalisasi memungkinkan data yang dihasilkan
oleh suatu perangkat bisa diproses oleh perangkat lain. Misalnya, gambar yang
dihasilkan kamera digital bisa diproses di komputer dengan software Photoshop.
Hasil pengolahan foto ini kemudian dirangkai dengan tulisan-tulisan maupun
gambar-gambar lain dengan menggunakan software desktop publishing untuk
dijadikan majalah. Kemampuan memanfaatkan data yang sama dengan perangkat yang
berbeda-beda, membuka jalan bagi konvergensi teknologi-teknologi digital.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat
terutama diperlihatkan oleh konvergensi teknologi informasi (TI) dengan
telekomunikasi. Kini orang bisa mengakses Internet dari mana-mana, termasuk
dari kafe maupun taman, secara nirkabel. Ponsel yang dilengkapi GPS, yang
memanfaatkan sinyal satelit, bisa membantu pengendara mobil menjelajahi daerah
yang tidak dikenalinya. Pemilihan pemenang kontes-kontes menyanyi - seperti
Indonesian Idol atau KDI - oleh pemirsa TV, dimungkinkan karena adanya jaringan
telekomunikasi seluler untuk menyalurkan SMS dengan komputer yang menjalankan
aplikasi SMS gateway. Dan, masih banyak lagi bentuk-bentuk konvergensi TI dan
telekomunikasi yang telah dimanfaatkan di masyarakat.
Konvergensi TI dan telekomunikasi mula-mula
terjadi di level terminal (perangkat penerima) dan di level layanan jaringan
secara terpisah. Di level terminal, perangkat ponsel secara bertahap
menggabungkan perangkat-perangkat lain yang awalnya tidak berhubungan dengan
telekomunikasi - pemutar musik, game console, kamera, sampai komputer
saku atau personal data assistant (PDA) - melebur jadi satu. Jika
perangkat telepon sambungan tetap hanya berfungsi sebatas untuk komunikasi
suara, perangkat ponsel berkembang
menjadi perangkat komunikasi, hiburan, sampai bisnis. Anak-anak muda bisa
menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik atau bermain game di
ponsel. Pebisnis yang semula mencemaskan waktunya bakal habis ditelan kemacetan
lalu-lintas Jakarta, bisa memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sebagian
pekerjaan kantor di mobil dengan PDA yang terintegrasi dengan ponsel.
Di level jaringan, konvergensi teknologi
menjadikan jaringan telekomunikasi - baik sambungan tetap maupun nirkabel -
tidak hanya untuk mengalirkan suara, tetapi juga berbagai jenis data, termasuk
untuk akses Internet. Mula-mula akses Internet hanya melalui komputer meja dari
rumah atau kantor. Namun, layanan Internet melalui jaringan nirkabel
memungkinkan orang mengakses Internet dari mana saja, dengan menggunakan
komputer notebook ataupun PDA yang lebih mungil, tanpa tergantung lagi
pada rentangan kabel. Saluran telekomunikasi satelit malah sudah lama
memfasilitasi konvergensi layanan, mulai dari suara, data sampai siaran TV.
Konvergensi terminal dan konvergensi jaringan
secara sendiri-sendiri tidak berlangsung lama, ke dua level ini pun kemudian
menjadi konvergen juga. Pengguna menjadi lebih dimanjakan lagi. Akses Internet
bisa dilakukan langsung dari ponsel yang menjalankan browser. Bahkan tanpa
Internet pun, melalui saluran telekomunikasi seluler orang bisa mengakses
berbagai jenis informasi, termasuk melakukan transaksi perbankan. Mula-mula
orang bisa chatting atau menelpon melalui komputer ke pengguna komputer
lain, kini melalui komputer orang juga bisa menghubungi orang yang menggunakan
ponsel. Di masa lalu, ketika di tengah perjalanan, PDA hanya berfungsi sebagai
komputer stand alone, yang tidak terhubung ke mana-mana karena tidak
bisa menjangkau jaringan komputer kantor, kini PDA yang menyatu dengan ponsel
bisa secara terus-menerus terhubung dengan jaringan komputer kantor. Tanpa
menunggu sampai kantor, seorang karyawan bisa mengakses basis data kantor.
Akibatnya, jika dimanfaatkan secara cerdik, ponsel bisa menghemat kegiatan
operasional perusahaan atau membuka peluang bisnis baru, bukan sekedar asesori
pengangkat citra canggih dan keren saja.
Sebagai media hiburan banyak kemungkinan bisa
diwujudkan. Melalui jaringan seluler, gambar TV yang jernih bisa disebarkan.
Selera musik kita bisa dipamerkan ke orang-orang yang menelpon kita berkat layanan ring back tone. Pengguna
seluler juga bisa memperluas jangkauan dan mengintensifkan kontak sosialnya video
call. Anak-anak muda bisa bermain game melawan orang lain yang berjauhan,
atau bahkan yang tidak pernah ditemuinya sekalipun.
Konvergensi TI dan telekomunikasi telah dan
akan memberikan peluang-peluang baru dalam bisnis. Bahkan bagi Indonesia,
perkawinan TI dan telekomunikasi seluler memiliki akibat bisnis yang lebih
besar dibandingkan dengan Internet. Ketika paruh kedua tahun 90-an bisnis di
Internet (dotcom) mengalami perkembangan luar biasa, sebagian kalangan
bisnis di Indonesia juga memiliki harapan-harapan yang sama dengan yang ada di
negara-negara maju. Maka, mulai dari tiruan Amazon sampai tiruan Yahoo
bermunculan, pendirinya berharap bisa meraih sukses yang sama. Namun, sayangnya
di Indonesia Internet ternyata merupakan
media transaksi yang rawan kecurangan. Penggunaan kartu kredit orang lain,
sampai pemalsuan identitas kerap terjadi. Contoh, penipuan yang dilakukan orang
di tanah air, misalnya ketika BCA meluncurkan situs Internet banking, dalam
waktu singkat bermunculan situs-situs palsu dengan nama mirip, sehingga
sebagian nasabah BCA ada yang terjebak mengakses situs tersebut dan menyerahkan
password atau kata sandinya, yang kemudian digunakan oleh pemilik situs
palsu tersebut untuk menguras rekening nasabah. Untuk mengatasi pencurian kata
sandi ini, kemudian BCA memberi nasabahnya alat keyBCA yang bisa menghasilkan
kata sandi yang berubah-ubah setiap kali login, sehingga bisa mempersulit
pemalsuan. Namun, hal ini tentu saja jadi agak mengurangi kenyamanan penggunaan
Internet banking.
Mobile banking atau transaksi
perbankan melalui jaringan seluler tidak terganggu oleh masalah di atas. Penggunaan
jaringan seluler untuk kepentingan transaksi komersial (mobile commerce)
lebih aman, karena identitas pengguna lebih jelas, satu nomor ponsel hanya
digunakan oleh satu orang. Sedangkan melalui Internet orang bisa mudah
berganti-ganti komputer, sehingga identitasnya lebih sulit dilacak. Karena
itulah mobile banking lebih sukses di tanah air.
Selain karena pemalsuan, kegagalan Internet
commerce di Indonesia antara lain dikarenakan biaya (fee) transaksi dengan kartu kredit
yang relatif tinggi yang harus ditanggung penjual, sementara barang-barang yang
mereka jual kebanyakan berharga rendah, seperti buku atau VCD. Hal ini membuat
pembayaran dengan kartu kredit jadi tidak menarik. Akhirnya toko-toko buku
online lebih banyak melakukan pembayaran tunai saat penyerahan barang atau cash
on delivery (COD). Namun, secara bisnis COD hanya layak dilakukan jika
pelanggan berada dalam kota yang sama dengan lokasi toko online.
Mobile commerce membuka peluang bisnis yang
lebih mudah bagi transaksi-transaksi kecil, karena pembayaran bisa dilakukan
dengan pulsa. Pulsa ponsel telah menjadi mata uang dalam mobile commerce. Lihat saja bisnis yang telah dimanfaatkan
dengan cara ini: pemesanan ring back tone, mengunduh ring tone
atau game, berlangganan SMS dari artis atau SMS yang berisi pesan-pesan
keagamaan, bahkan sampai memberikan sedekah atau sumbangan.
Bisnis ring back tone bahkan bisa menjadi
penyejuk industri musik yang sudah lama didera pembajakan. Sejumlah musisi,
seperti Iwan Fals, Samsons, Letto sampai almarhum Chrisye, sempat
mendistribusikan lagu-lagunya melalui jaringan telekomunikasi seluler. Lagu
Letto yang berjudul Ruang Rindu mencapai angka 3,2 juta untuk penjualan ring
back tone. Padahal jika dijual dalam bentuk kaset, untuk bisa laku 1 juta
saja sudah sangat luar biasa. Penjualan ring back tone ini lebih bisa
menghindari pembajakan. Bahkan penggemar musik juga tidak segan bertransaksi
karena biayanya murah karena tidak ada media fisik - seperti keping CD atau
kaset - yang digunakan, dan juga caranya mudah karena bisa dilakukan dari
ponsel mereka di manapun mereka berada. Secara psikologis orang juga bisa mudah
melakukannya karena mereka membayarnya dengan pulsa dalam jumlah kecil,
sehingga mereka tidak merasa "mengeluarkan uang".
Konvergensi teknologi memungkinkan orang dengan
perangkat yang berbeda-beda mengakses atau bertukar data yang sama. Misalnya
satu universitas memasukkan data nilai mahasiswa ke dalam basis data. Kemudian
data nilai ini bisa diakses baik melalui situs Web universitas, maupun diakses
melalui SMS. Pembicaraan melalui layanan VOIP, dulu harus dari komputer ke
komputer. Sekarang dengan Skype, kita bisa menelpon dari komputer ke telepon
rumah atau ke ponsel.
Perkembangan konvergensi teknologi juga
terlihat pada bisnis game. Mula-mula game dijalankan secara lokal, baik di
komputer maupun di ponsel. Popularitas Internet mendorong orang untuk
mengembangkan online game
sehingga orang bisa bermain game melawan banyak orang yang berada di tempat
berbeda-beda dan berjauhan. Popularitas online game juga dikarenakan
orang lebih suka bermain melawan orang lain dibandingkan dengan melawan
komputer. Online game ini tumbuh menjadi bisnis besar, karena untuk bisa
bermain orang harus mendaftar dulu, yang kemudian bisa membayar atau gratis.
Pengguna online game juga akan selalu tergantung pada server perusahaan
penyedia layanan, sehingga bisnis ini tidak akan digerogoti pembajakan.
Perkembangan berikutnya orang bisa bermain game yang sama melalui perangkat
berbeda-beda. Sebagian orang bermain dari komputer, sebagian lainnya bermain
dari ponsel. Game karya orang Indonesia, seperti Kurusetra misalnya, bisa
diakses baik melalui Internet dengan komputer, maupun dengan ponsel melalui
jaringan seluler.
Demikianlah, konvergensi TI dan telekomunikasi
telah dan masih akan terus melahirkan produk-produk baru dengan
kemampuan-kemampuan baru, serta bisnis-bisnis baru pula.***
Penulis adalah peneliti di PTIK, BPP Teknologi.